saat matahari ini
melangkah pergi, menggelap
di kuning merah terakhirnya coba kulihat
matahari menoleh ke belakang, padamu
lirih dia berkata :
setahun telah aku menyinarimu
setahun telah aku menghangatkanmu
setahun telah aku terbit dan tenggelam dengan harapan besar padamu
setahun telah aku menemanimu lewati tawa dan tangis
setahun telah aku berkali-kali kalut saat mendung dan kau panggil teriak aku
setahun telah aku jalani perintah Allah memberimu kehidupan
setahun telah aku tak lelah
tapi untukmu saat aku tak ada,
pernahkah harimu bersinar untuk orang?
berapa harimu habiskan buat mereka tak bisa lihat bulan dan bintang,
tertutup basah air mata mereka?
tapi untukmu,
pernahkah harimu hangat terangkan orang tuamu?
berapa harimu buat mereka dingin kecewa?
dengan segala coba-cobamu menanggapi kata dewasa
tapi untukmu,
pernahkah harimu menjawab harapan itu?
berapa harimu lewati tanpa arti?
bahkan dibanding dengan sesuap nasi
berapa harimu lewati dengan tertatih terikat hari kemarin yang lalu?
berapa harimu lewati tangisi dirinya yang bahkan tak peduli?
tapi untukmu,
pernahkah harimu peduli teman?
berapa harimu acuhkan teriakan mereka saat butuh kau?
bahkan dibanding angin lalu
tapi untukmu,
pernahkah harimu mengingat Allah?
penciptamu, pencipta kita
berapa harimu laknat padaNya!
berdusta padaNya!
acuhkan padaNya!
aku akan datang besok, dan coba dengar kataku
setahun telah tidak kau lelah?
setahun telah aku tak lelah
setahun nanti aku pun tak lelah
buat dirimu lebih baik
kita kan berbincang lagi
dengan lebih mesra, setahun lagi
buat dirimu lebih baik lagi
lebih baik lagi....
lebih lagi....
dan hilanglah matahari ini
tapi besok kita akan bertemu
mungkin dengan semangat baru
Kamis, 31 Desember 2009
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar